Aiming to Misbehave
Wawancara dengan Mimi Morticia

Pada saya nanti, bila lampu sudah dipadamkan, dan pintu sudah ditutup rapat-rapat, puisi yang terakhir akan dibaca adalah tulisan Mimi Morticia. Bukan tentang patriotisme, atau semangat bangsa, atau kemanusiaan atau penderitaan anak-anak di bumi jauh, tapi tentang perbualan peribadi seorang manusia dengan kegelapannya.

Saya berjumpa Mimi Morticia di sebuah restoren Ramen di The Strand, Kota Damansara. Basa basi sebentar dan kami memesan dua mangkuk ramen pedas dan berbual tentang hal-hal esoterik dan obscure sebelum wawancara dimulakan. Mimi melompat dari satu topik ke satu topik seperti seekor tupai dengan ADD, tak pernah tinggal di satu ranting lama, sesuai dengan kilas-kilas imejan yang lahir dari puisinya. Wawancaranya berlalu pantas, seperti taufan yang melencong sebentar untuk menarik nafas sebelum kembali memusnahkan  apa yang ada di jalannya.

Seminggu  kemudian saya  ke kedai ramen yang sama untuk mencuba hidangan lain

Ia sudah ditutup. .


Kenapa saudari memilih untuk menulis puisi?

Just to make sure people hate me more than they already do — I’m going to say this. Puisi yang memilih saya, bukan saya yang memilih puisi. To be honest though, I never consider myself anything but just a writer. Saya menulis, dan apa yang Anda baca, dan Anda suka, terserah Anda menganggapnya apa.

Siapa yang menjentik imaginasi puisi saudari? Ada buku khusus yang menjadi rujukan tatkala ilham kontang?

Klise paling kalis waktu, apalagi kalau bukan kehidupan dan percintaan percintaan yang gagal. It’s more of a translation of feelings, tak bermaksud apa apa buat sesiapa (kadang kadang).

Inspirasi ketika kontang? Get into some mischief. 

I like to say [ilham puisi adalah seperti] epilepsy. Datang tanpa di undang, di picu mungkin.

Bagaimana saudari menulis puisi? Prosesnya bermula dengan imejan? Atau barisan ayat? Selalunya waktu bila saudari menulis?

I like to say [ilham puisi adalah seperti] epilepsy. Datang tanpa di undang, di picu mungkin. Often more than not, it’s an unfinished thought. Maka tinggalah bangkai bangkai tulisan saya yang terbengkalai dalam perkakas elektronik, kertas dan tisu tisu kotor.

Menulis puisi dalam kegelapan

Bila saudari berfikir untuk menulis puisi dengan lebih serius? Yakni dengan menerbitkannya? Kenapa memilih penerbit itu?

I have been writing for a very long time. Sejak dari zaman sekolah and sometime around 2009-2010, saya dipinang oleh Sang Freud Press (sebuah syarikat penerbitan yang banyak menerbitkan puisi orang-orang frinjan). Bermulalah perhubungan kami.

Puisi-puisi saudari ada bayangan seksualiti dan banyak yang mempunyai mood gelap dan marah. Setuju? Komen?

Setuju. I’m not interested in explaining my writings nor am i here to justify anything.

I have been through it all, shat all over, twitter-bashed, accused of plagiarizing. Sakit, tapi you know what, Siapa you? 

I have been through it all, shat all over, twitter-bashed, accused of plagiarizing. Sakit, tapi you know what, Siapa you?

Bentuk puisi saudari tidak konvensional. Ada percampuran bahasa Indonesia-Inggeris-Malaysia. Adakah ini sesuatu yang natural, atau ia terbentuk beransur-ansur dari penulisan dan osmosis bahan bacaan?

Boleh jadi natural, boleh jadi osmosis. Seperti yang biasa saya katakan, saya mempunyai keluarga di Jakarta dan Jawa Tengah, tinggal di Jakarta selama 6 tahun, akrab dengan hasil karya Indonesia and jujur, isu bahasa itu harus standardized dan uniform itu isu basi. Shouldn’t we celebrate differences? And amalgamation?

Bagaimanakah saudari tahu sesebuah puisi itu sudah siap? Apakah garis yang menandakan ia sudah berakhir dan boleh dipersembahkan pada khalayak?

Seperti tiba waktunya untuk melahirkan anak. You just know when to push.

Apa pendapat saudari tentang scene puisi di Malaysia? Apakah ada harapan untuk puisi sambil kita melangkah ke WAWASAN 2020 (yang sudah dimansuh) atau TN50?

The big picture of the literature scene — I think it’s alright, banyak dah berubah dalam beberapa tahun kebelakangan. Penghargaan pada karya lokal, dan ketersediaan materi bacaan untuk publik. At the same time some of it feels forced, and not as organic. But who am i to comment on this?

Seni untuk masyarakat atau seni untuk sedap sendiri?

For me it’s more of a selfish thing. I have something to say — and it stops there. I dont feel morally obliogated untuk memulakan ajaran baru atau menyampaikan apa apa pesan. I’m just like you, trying to figure out the Don’ts and Do’s

Puisi yang manakah paling dekat dengan saudari. Yang boleh dikata inilah puisi Mimi Morticia?

I would say any piece from Cerita Cinta Bohongan. Sccara keseluruhan, naskah itu lebih kohesif  dan saya boleh tetap merasa Yes, it is still relevant to me. It tells a story of feelings, sudut pandang, dan juga how the only constant thing in life — is change.

Ada seorang penyajak dahulu-kala yang berkata, puisi budak-budak sekarang tidak mempunyai nilai kemasyarakatan, oleh itu mungkin boleh dianggap sebagai artifak sejarah sahaja. Apa pendapat saudari? 

Pemikiran macam ini sangat membingungkan. Saya rasa tiada beza dengan soalan ‘ Kalau karbohidrat boleh di perolehi dari nasi, kenapa kita harus makan roti, pasta, chapati dan lain lain ?

NOT EVERYTHING HAS TO SERVE A SINGULAR PURPOSE. Kita ni bukanlah makhluk satu dimensi. Bawak bawakla berkembang sikit.

Khabarnya saudari seorang doktor. Jadi soalan yang obvious ialah, bukankah seorang yang berlatar sains harus berfikiran konkrit, manakala puisi adalah kabus yang tak boleh digenggam. Antara dua pendekatan itu, apakah ada cross-pollination atau mereka dua dunia yang terpisah?

I’m the same person. Tiada apa yang membingungkan. Again, masyarakat bahkan kita sendiri suka sangat mengurung diri sendiri. Kita bebas berbuat apapun, kemanapun, bagaimanapun. Yang penting, no one gets hurt and it makes you happy. I am not defined just by the things that i do.

Dalam Cerita Cinta Bohongan ada satu segmen yang mempunyai bentuk sebuah naratif, mungkin diari, mungkin jurnal, dan ia berterusan sehingga beberapa mukasurat. Apakah ini satu progressionm daripada puisi kepada prosa, atau ini cuma simpang sebentar sebelum saudari kembali kepada bentuk puisi?

I want to be able to write anything and everything. Quoting Justin Bieber Never say Never.



Ahmad Jihadi B. Nasir

Setelah kembali berperang di Timur Tengah melawan kapitalis imperialis, bebaskan rantai ini, Ahmad Jihadi memohon untuk bekerja sebagai pomen di sebuah bengkel di Shah Alam. Beliau menulis di antara menukar oil filter.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *