Zodiak
oleh Mimi Morticia

Januari

Dua minggu selepas malam Natal di rumahnya. Aku malu mengatakan padanya yang sebenarnya, itu pertama kalinya aku dijemput ke makan malam Natal. Serba salah tingkah, malam itu aku tidak makan apapun melainkankan paha ayam yang sudah digigit separuh, yang dia minta aku pegang sementara dia mendampingi tamu tamu yang datang.

Aku lihat dia ketawa dan bercanda dan matanya bersinar, dan aku sadar yang ternyata, semua tamu kelihatan jauh lebih cantik dari aku. Aku sudah berkira kira bagaimana caranya untuk menyusup pulang, makan mi instan di atas katil ku dan tidur selama satu tahun.

Aku nyaris memusing tombol pintu bila tiba-tiba aku dengar dia berkata ‘Mimi, kamu kenapa sendirian di sana. Meet my friend here, Mikey.’

Februari

Kami baru jadian 2 minggu sebelum Hari Valentine. Sepanjang hari aku terfikirkan dia, apa dia menunggu text dariku, apa dia selama ini mati matian setiap kali datangnya Valentine, apa dia aktivis anti-Valentine, aku benar benar tidak tahu.

Jadi aku memilih diam.

Sore itu dia teks aku, dan bertanya apa yang kami harus makan malam ini, dan aku jawab jawaban yang sama setiap harinya, Apa saja—ayo pergi.

Kemudian dia teks aku, Japanese atau Palak paneer?

Aku sedang menekan balasan bila dia teks lagi ‘Ehm Happy Valentine’s Mimi, menurut mu apa kita ke tempat capati tempoh hari?’

Maret

Buat pertama kalinya aku ikut menghadiri undangan resepsi perkahwinan temannya. Kami seharusnya terbang ke sana, tapi entah bagaimana, kami akhirnya berkeputusan untuk menaiki kereta api yang akan mengambil 8 jam dari kehidupan kami yang tidak akan kami dapatkan kembali.

Di tengah tengah perbualan kami, aku tertidur di sebelahnya. Saat aku bangun, aku lihat kemeja hijaunya bertompok basah seukuran 4 x 3 sentimeter. Aku minta maaf berkali kali. Dia cuma ketawa dan menggelengkan kepalanya. Berkali kali.

April

Dia teks aku dan bertanya apa aku ada terlihat lakaran projeknya. Teksnya penuh typo dan kacau bilau tapi yang aku dapat fahami adalah betapa maha penting lakaran itu dan kalau dia tidak dapat menghantar lakaran itu ke atasannya hari ini dia lebih baik saja mati duluan.

Dia teks aku terus-terusan selama dua menit, berhenti sebentar untuk ke toilet dan kemudian teks aku lagi. Setiap kali aku mengarang balasan, dia sudah menaip lagi.

Dia tanya kenapa aku diam, dan tidak memujuk dia, apa aku mau dia mati hari ini.

Aku balas teksnya dengan smiley dan berkata ‘Sayang, hal pertama yang aku lakukan pagi tadi adalah menaruh lakaran kamu itu di dalam tas* kerja mu supaya kamu tidak lupa untuk bawa ke kantor hari ini. Kamu udah buka tas kamu belum?’

Dia tidak membalas teks ku.

Siang itu sewaktu jam makan siang, aku lihat dia di luar lif tempat kerjaku, dengan senyuman yang entah mulai di mana dan berakhir di mana.

Mei

Untuk hari lahir dia, aku merencanakan macam macam. Dari daftar restoran, orang orang yang harus kami jemput, lasagna tanpa daging untuk sepupu vegannya, kucing Bengal impor* sebagai hadiah dan macam macam lagi.

Pada hari jadinya, restoran yang kami tempah itu mati lampu, setengah dari daftar tamu kami tenat di rumah kerana flu, lasagna vegannya ternyata ada hirisan sosej ayam belanda dan kucing Bengal itu mencakar salah satu tamu kamu sampai berdarah akibat panik mati lampu.

Aku pergi ke kamar mandi dan menangis, aku malu kerana memalukan dia dan aku duduk di dalam kamar mandi itu selama satu jam.

Berasa siap berhadapan dengan dunia, aku buka pintu. Aku lihat dia duduk betul betul di hadapan pintu. Dia bangun dan memeluk aku, Terima kasih Sayang, seumur hidupku, ini baru pertama kali aku yakin hari jadiku akan diingati semua orang.

Juni

Sepertinya aku memakai kemejamu. Barang mu sudah terlalu banyak di sini sampai aku bingung–

Aku diam sewaktu dia mengatakan itu. Memang kami banyak menghabiskan masa bersama, perbualan malam hari tentang apokalips, menonton seluruh musim Game Of Thrones bersama, makan es krim di tempat tidur dan kami berjaya menyelesaikan misteri pencuri roti.

Ini kemejamu kan? dia tanya lagi.

Iya, aku jawab. Apa aku harus berhenti meninggalkan baju di tempatmu?

Juli

Bulan ini aku panggil bulan merindu. Bulan di mana masa dan Tuhan sama sama ketawa kecil melihat kami mati-matian menyusun jadwal. Senin, Selasa dan Rabu dia harus ke luar kota dan tiap Khamis, Jumaat dan Sabtu aku harus kerja sampai larut malam.

Ahad pertama bulan itu, ibunya sakit, kurang enak badan. Brunch kami batal. Okay.

Ahad kedua, mobil aku mogok dalam perjalanan ke kencan.

Ahad ketiga, kami berdua jatuh sakit. Kami saling marah marah di meja makan, dan tidur selama 5 jam seperti kanggaru.

Pagi Ahad keempat, aku lihat nama kekasih lamanya keluar di skrin handphonenya.

Augustus

Kami mengambil cuti satu minggu untuk sama-sama pergi ke suatu tempat dan benar benar istirahat. Sampai di hotel, aku mengeluarkan baju baju dari bagasi dan menyusun satu satu di dalam lemari.

Kemudian aku buka bagasi dan menggantung kemeja nya rapi- rapi.

Dia keluar dari kamar mandi , dan berteriak, Kamu sedang apa? Aku kaget, dan langsung diam. Dia menghampiriku, mengaut semua kemeja di tanganku dan mencampaknya ke tepi.

Kita kan lagi liburan! Siapa aja yang kemejanya licin pas lagi liburan! Wooohoooo!

Dia tunduk mencempung aku dan menyanyi nyanyi I wanna move it move it I wanna move it move it.

September

Musim hujan lagi. Tiap hari tepat jam 4 petang, hujan akan turun. Jadinya dia akan sampai dulu untuk makan malam, dan aku akan sentiasa telat, masih lagi nyangkut dalam trafik yang menggila.

Satu hari dia kata , kita harus memikirkan bagaimana caranya untuk lebih pintar dari hujan. Wajahnya serius, matanya bulat memandang ke dinding.

Menurutmu bagaimana? aku bertanya malas, cuba menghumori dia.

Mmm. Bagamana kalau kita mundurkan semua jam menjadi satu jam lebih lambat. Jadi hujan akan turun pada jam 3 (yang baru) dan kita takkan lambat lagi untuk reservasi jam 7. Brilliant.

Aku pandang wajahnya yang bercahaya. Nyaris keluar satu bohlam lampu di tepi kepalanya.

Sumpah, saat itu aku mau ketawa guling guling, tapi ku tahan.

Dia tunduk mencempung aku dan menyanyi nyanyi I wanna move it move it I wanna move it move it.

Oktober

Aku sedang mengetik sesuatu di laptop, dan dia tidak pulang pulang dari dapur. Aku memanggil namanya dan dia cuma menjawab pada panggilan ketiga. Sewaktu akhirnya aku berniat untuk bangun mendapatkannya, saat itu dia masuk ke kamar dengan apron hitam dan piring berisi sepotong kek, dan sandwic ikan tuna gergasi.

Dengan wajah berkeringat dia senyum dan kata,

Selamat Harijadi Mimi, semoga besok kita masih hidup selepas makan kue buatanku ini.

Aku pandang wajahnya yang bercahaya. Nyaris keluar satu bohlam* lampu di tepi kepalanya.

November

Hari itu hari yang panjang buat dia. Proposal yang dikerjakan berbulan ditolak, ban mobilnya kempes di tengah jalan dan dia kenyang dimaki orang orang kerana menjadi punca trafik statik selama 2 jam.

Malam itu aku pulang dan aku lihat dia baring di sofa, belum tidur.

Kamu kenapa Sayang, belum tidur? Kamu okay? Kan hari ini melelahkan buat kamu. Tidur yuk?

Dia diam. Aku tunduk memeluk dia untuk suatu waktu yang lama dan panjang, sampai akhirnya dia yang melepaskan pelukan.

Sumpah, saat itu aku mau ketawa guling guling, tapi ku tahan.

Disember

Anggur merah sepuluh, anggur putih sepuluh, sampanye* lima! Menurut kamu cukup tidak? Kami belanja di Food Hall, troli penuh dengan herba dapur, pasta kering, tin tin makanan dan cokelat.

Kita cuma memasak untuk Natal kan? Bukan menghurung stok untuk apokalips kan? aku usik.

Dia menjeling aku, dan dengan sombong berkata, Kamu tau kan kalau parti Natal itu semacam kepakaran aku? Buktinya Natal lepas, kamu aja makan sampai piringmu bersih tak bersisa kan?

Aku senyum dan jawab, Iya, piringku memang licin bersih, you have no idea


Petikan ini adalah dari Cerita Cinta Bohongan terbitan Sang Freud Press

 

Mimi Morticia

Mimi Morticia adalah sebuah boneka yang fikir dia seorang gadis yang tinggal di pinggir Kuala Lumpur. Dia pernah menulis tiga buah buku yang dituduh puisi, yakni Tangerin & Nikotin, Cinta Dramatik Melawan Graviti dan Cerita Cinta Bohongan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *